Netizen Bertanya! Siapa Sebenarnya KH. Ma’ruf Amin, Inilah Riwayat Dan Silsilahnya

Netizen Bertanya! Siapa Sebenarnya KH. Ma’ruf Amin, Inilah Riwayat Dan Silsilahnya

0 3242

SYEKH MUHAMMAD AMIN AL-BANTANI
(BUYA AMIN KOPER)

MUQADDIMAH
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام علي سيد الاولين والاخرين، محمد خاتم الانبياء والمرسلين، أما بعد:

Maka inilah sebuah Cerita sederhana yang dapat penulis persembahkan kepada pembaca mengenai sekilas riwayat hidup dari Syekh Muhammad Amin bin Abdullah.

Cerita ini diambil intisarinya dalam haul Buya Amin ke-9 tahun 2003. Hanya sedikit ada penambahan di sana-sini. Terutama ketika menulis tentang silsilah. Penulis langsung menemui pemegang buku silsilah dari para keturunan Syekh ciliwulung dan Syekh Hasan Bashri Cakung yang dipegang secara turun temurun oleh keturunan Syekh Ma’mun bin Muhammad Ali Al-Madinah.

Perjuangan Syekh Muhammad Amin telah mengawal masyarakat Kresek dan sekitarnya khususnya dan Banten umumnya juga sekitar Banten menjadi masyarakat yang agamis dan taat dalam menjalankan ibadah.

NAMA DAN KELAHIRAN
Beliau bernama Syekh Muhammad Amin bin Abdullah bin Nyi Kati binti Nyi kanisah binti Syekh Alim bin Ki abdullah bin Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri bin Ki Mahmud bin raden saleh bin Sulthan Abul Mufakhir bin Sulthan Maulana Muhammad Nashruddin bin Sulthan Maulana Yusuf bin Sulthan maulana Hasanuddin bin Syarif hidayatullah (Sunan gunung Jati).
Beliau juga adalah keturunan Sulthan Agung Tirtayasa melalui Nyi Ratu Hadisah. Nyi ratu Hadisah adalah isteri dari Syekh Alim bin Abdullah. Nyi Ratu Hadisah tinggal bersama suaminya Syekh Alim di Kresek tepatnya di cideng kanoman. Di sana syekh alim mendirikan pesantren yang cukup besar. Selain sebagai Kiayi, syekh Alim juga kaya raya. Binatang ternaknya yang berupa kerbau begitu banyak. Di samping pesantren terdapat kandang kerbau yang cukup besar sehingga orang-orang kemudian menyebut cideng kanoman dengan kandang gede.

Adapun silsilahnya sampai ke Sulthan Agung Tirtayasa adalah Syekh Muhammad Amin bin Abdullah bin Nyi Kati bin Nyi Kanisah bin Nyi ratu hadisah bin Syekh Nurahim bin syekh Abdul Muid bin Sulthan Maulana manshur abdul Kohhar bin sulthan Agung tirtayasa bin maulana Abul Ma’ali bin Sulthan Abul Mafakhir bin Sulthan Maulana Muhammad nashruddin bin Sulthan maulana Yusuf bin sulthan maulana hasanuddin.

Beliau juga adalah keturunan dari syekh ciliwulung seorang waliyullah yang sangat terkenal di daerah Banten Utara. Makamnya ramai di ziarahi masyarakat setiap hari apalagi malam jum’at.

Adapun silsilahnya sampai ke Syekh Ciliwulung adalah: Syekh Muhammad Amin bin Abdullah bin Nyi Kati bin Nyi kanisah bin Syekh alim bin syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri bin Nyi ratu Fatimah binti syekh Ciliwulung bin raden Kenyep bin Pangeran Arya Wiraraja bin Prabu Geusan Ulun Sumedang.
Beliau dilahirkan di kampung sepang Desa koper kecamatan kresek Kabupaten Tangerang Banten pada tahun 1899 M. berarti dua tahun setelah wafatnya syekh Nawawi At-tanara Al Bantani yang wafat di makkah al Mukarromah tahun 1897 M.

Beliau di lahirkan dari keluarga santri yang taat beribadah. Silsilahnya yang sampai ke Syekh hasan bashri dan syekh ciliwulung Cakung menjadi pertanda bahwa secara turun temurun mustika kesantrian itu melekat dalam diri Buya Amin. Cakung adalah sebuah daerah perbatasan antara Serang dan tangerang sebagiannya masuk wilayah serang dan sebagian lagi masuk wilayah Tangerang. Pada zaman kesultanan Banten sampai akhir abad 18 cakung adalah pusat ilmu pengetahuan keislaman di daerah Banten. Para wali dan ulama banyak yang bermunculan dari daerah ini.

MASA KESANTRIAN SYEKH MUHAMMAD AMIN

Buya Amin sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas dan giat belajar agama. Kakeknya yang bernama Ki Abdurahman ayah dari Ki Abdullah adalah pengelana dari jawa Timur. Menikah dengan Nyi Kati dan dikaruniai anak bernama Ki Abdullah yaitu ayah buya Amin.

Dari kakeknya inilah mungkin menurun jiwa pengelanaan Buya Amin yang kemudian rajin berkelana menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren.

Tercatat beliau mesantren keberbagai pesantren di Banten di antaranya ke pesantren Kadulisung Pandeglang, pesantren Pasir bedil Rangkas Bitung, Pesantren Pelamunan asuhan Syekh tohir al Falamuni Al-Bantani dll. Di pesantren Pelamunan ada dua santri yang bernama Amin yang keduanya adalah murid kesayangan Syekh Tohir. Dikisahkan bahwa Syekh Tohir ingin menikahkan salah seorang putrinya dengan salah seorang dari dua Amin yang sama cerdasnya ini.

Dengan pandangan bathin akhirnya Syekh Tohir memilih Amin yang satunya dan membiarkan Buya Amin Koper mendirikan pesantren di Koper. Rupanya Syekh Tohir mengetahui bahwa kelak Buya Amin Koper akan sangat dibutuhkan masyarakat di daerahnya.

Sebelum mesantren ke daerah luar, Buya Amin mesantren di daerah Kresek yang banyak terdapat ulama-ulama yang mumpuni seperti Syekh Muhammad Ramli yang kemudian di angkat menantu oleh gurunya itu.

Dari pernikahan dengan putri Syekh Muhammad ramli ini Buya Amin mempunyai anak KH. Ma’ruf Amin yang kelak menjadi salah seorang dari Sembilan Dewan Penasihat Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Selain kepada syekh Muhammad Ramli, Buya amin juga di kresek nyantri kepada syekh Misbah di Koper. Syekh Misbah dan Syekh Muhammad Ramli juga adalah keturunan dari syekh Hasan Bashri Cakung. Buya Amin juga murid dari Syekh Sabi’un Ranca Sumur dan Habib Husen Jakarta.
Kehausan akan ilmu pengetahuan membawa Buya Amin menuntut ilmu di kota suci Makkah Al-Mukarromah sekitar tahun 1930. Pada tahun 1936 beliau pulang dari Makkah dan menikah dengan Nyai hajah Nurjannah dari serang. Kemudian setelah menikah mendirikan pondok pesantren di Koper.

MENDIRIKAN PONDOK PESANTREN

Seperti dikisahkan sebelumnya, setelah pulang dari dari Makkah al Mukarromah dan menikah buya Amin mendirikan pondok pesantren di koper Kresek pada tahun 1936. Berdatanganlah para santri dari berbagai daerah di Banten dan Jawa Barat di antaranya dari Tangerang, Bogor, serang, Karawang dan lain-lain.

Buya Amin dikenal para santri sebagai guru yang ikhlas dan tawaddu. Pancaran sinar keilmuan tergambar dari wajahnya yang penuh kesejukan. Namun walaupun dikenal sejuk Buya juga dikenal sangat keras dalam mendidik santri diwaktu-waktu tertentu. Darah para sulthan Banten yang penuh heroic dan darah para aulia yang suci menyatu dalam diri Buya Amin. Ketegasan dan keberanian adalah bakat alami yang dimiliki para keturunan sulthan seperti Abuya. Dan nilai-nilai kesantrian yang penuh dengan tradisi kesufian dan kesejukan mewarnai diri Buya dalam mendidik para santri.kedua-duanya kemudian menjadikan diri Buya dapat melebur dalam segala suasana untuk mengawal umat menuju keridoan Allah Swt.

Dikisahkan kecintaan dan kasih sayangnya kepada para santri kadang-kadang tergambar seperti melebihi cinta dan sayang untuk anak-anaknya sendiri. Tak jarang Buya memasak nasi goreng kemudian setelah matang diberikan untuk para santri. Beliau juga dikenal sangat memuliakan setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya. Buya Busthomi Cisantri Pandeglang mengatakan setelah bertemu dengan Buya Amin: “Jiwa kerasku luluh ketika bertemu dengan Buya Amin, seorang yang alim yang ilmunya begitu tinggi tidak menampakan dirinya seperti layaknya orang yang ingin dimuliakan”. Buya Bushtomi menambahkan : “Saya belajar banyak dari kelembutan jiwa ulama Kresek seperti buya Amin”.

Para santri banyak yang mengisahkan sering sekali Buya ketika santri membaca kitab beliau Nampak tertidur, tapi ketika santri membaca ada yang salah beliau langsung membetulkannya. Memang hari dan malam buya, ketika tidak mengajar santri selalu diisi oleh ibadah dan memutalaah kitab-kitab. Banyak masalah-masalah umat yang datang kepada beliau yang harus dicarikan penyelesaiannya dari kitab-kitab mu’tabarah.

Pesantren Koper banyak melahirkan ulama-ulama yang menjadi tumpuan umat di antara murid-murid Buya Amin adalah KH. Syarbini pengasuh pondok pesantren Al-falah Kresek, KH. Nurzen pengasuh pesantren Al-Hikmah Pendawa Binuang, KH. Mahmud dan KH. Qalyubi pengasuh pesantren Manba’ul hikmah Renged Kresek, KH. Nawawi pengasuh pesantren Tarbiyatul Mubtadiin Pasir Nangka Tigaraksa, Syekh mufti asnawi pengasuh pesantren darul hikmah Srewu Cakung Binuang, KH. Humaid Endol Tanara pengasuh Majlis Ta’lim syekh Nawawi Tanara, KH. Ahmad Romli pengasuh pesantren Dangdeur Balaraja, KH. Kalyubi Mauk, KH. Munir Cikarang Bekasi, KH. Hasbullah binuang, KH. Syatibi Ampel, KH. Sayuti Bolang, KH. Nasihun Daon, KH. As’ad Bendung, KH. Syarif Kubang, KH. Rafiuddin Saga, KH. Sukama cikande, KH. Sukri Koper, KH. Marjani cijeruk dll.

PENGAJIAN SELASA DI ARRUHANIYAH

Buya Amin bersama H. Abdul Gani adalah pencetus pengajian setiap hari selasa di masjid Agung Arruhaniyah kresek yang sudah berlangsung sejak sebelum merdeka hingga sekarang. Pengajian Selasa di Arruhaniyah adalah pengajian yang diikuti oleh para ulama dan kiayi dari berbagai daerah. Pengajian selasa adalah barometer masyarakat dalam bidang hokum islam. Fatwa-fatwa para muqri (pembaca kitab kuning) di pengajian selasa menjadi acuan dan pegangan. Hal demikian tentunya dikarenakan selain yang membaca, hadirin peserta pengajian juga mayoritas adalah para kiayi. Jadi akan sulit fatwa yang salah akan dibiarkan dalam pengajian selasa. Bisa dikatakan ijma ulama kresek, kronjo, gunung kaler, binuang, tanara dan sekitarnya terjadi di pengajian selasa masjid arruhaniyah kresek.
Saat buya Amin masih hidup, muqri pengajian selasa hanya Buya Amin sendiri. Para ulama lain segan membaca kitab di hadapan buya. fatwa-fatwa buya amin adalah rujukan sentral para ulama waktu itu. Ketabahurran Buya dalam berbagai disiplin keilmuan menjadikannya seorang ulama yang paripurna. Ia adalah seorang faqih yang sufi, mufassir yang muhaddis, dan nahwiy yang ushuli. Buya juga sangat mahir mengajarkan ilmu bayan, ma’ani dan badi’. Beliau juga sangat ahli dalam ilmu faraid.

Setelah beliau wafat pada tahun 1415 H atau delapan belas tahun yang lalu, pengajian selasa diteruskan oleh murid kesayangannya yaitu Syekh Mufti bin asnawi pengasuh pesantren Darul Hikmah srewu Binuang. Sama seperti gurunya syekh Mufti bin Asnawi kemudian menjadi rujukan para ulama dan masyarakat dalam hokum islam. Ketika masa syekh Mufti bin Asnawi inilah dimulai pembaca kitab bukan hanya sendiri tapi juga melibatkan beberapa kiayi. Ketika syekh Mufti bin Asnawi wafat pada tahun 1432 H, pengasuh pengajian di emban oleh murid Buya Amin yang lain yaitu KH. Hamzah dari Gunung Kaler bersama para kiayi yang lain. Sekarang pengajian selasa di asuh oleh KH. Hamzah Gunung kaler, KH. Junaid Jati Pulo, KH. Rasyidi (pengasuh Ponpes Riyadlul Jannah) tengger kemuning, KH. Toyib Kandawati, KH. Kamta talok, KH. Syambas Renged dan H. Imaduddin Utsman (pengasuh ponpes Nahdlatul ulum) Cempaka Kresek.

BUYA AMIN DAN AQIDAH AHLUSSUNAH WALJAMAAH

Aqidah Ahlussunnah waljamaah adalah aqidah mayoritas muslim dunia. Aqidah yang berlandaskan al-qur’an hadis dan ijma para ulama. Pada awal abad 20, aqidah ahlussunah waljamah mendapatkan tantangan dari aqidah wahabiyah yang disebarkan oleh kerajaan Arab Saudi. Di Makkah yang pada waktu itu telah dikuasai oleh rezim wahabi, Buya amin tetap konsisten untuk berdiri tegak di bawah bendera Ahlussunnah wal jamaah. Beliau di Makkah berguru kepada para ulama yang masih memegang dengan kuat ajaran-ajaran ulama salaf dalam tradisi ahlussunnah waljamaah.
Ketika beliau pulang ke tanah air, di Indonesia telah terbentuk organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam NU adalah ormas yang membela mati-matian ajaran-ajaran ulama salaf dan tradisi pesantren yang tengah habis-habisan di serang oleh Ormas wahabi di Indonesia yaitu Muhammadiyah. Buya amin langsung masuk dalam ormas NU dan menjadi salah seorang ulama yang berdiri di front terdepan dalam melawan ajaran wahabi di Banten yang disebarkan Muhammadiyah.

Ketika NU bergabung dengan Masyumi tahun 1943 Buya Amin aktif dalam Masyumi yang di ketuai hadratusyekh hasyim Asy’ari. Pada tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan mengikuti pemilu tahun 1955, dengan perjuangan Buya Amin dan ulama lainnya partai NU menang mutlak di Tangerang. Pada malam terjadinya peristiwa pemberontakan PKI tanggal 30 september 1965, Buya Amin tengah melantik kepengurusan NU tingkat ranting sekecamatan kresek yang berlokasi di kemuning. Pada tahun 1975 terjadi fusi antar partai islam ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Buya Amin pun sami’na wa ato’na untuk bergabung dengan PPP dan menjadi penasihat PPP Kabupaten tangerang. Kecintaannya kepada islam dan umat islam itulah yang membuat Buya Amin terus berjuang dalam organisasi yang berlandaskan islam ahlussunnah wal jamaah.

Ada tiga kiayi yang waktu itu sangat terkenal perjuangannya bagi ormas NU. Tiga kiayi ini adalah segitiga pager NU di Banten. Mereka adalah KH. Abdul Kabir pengasuh pesantren Kubang Petir, Buya Muhammad Syanwani pengasuh pesantren Sampang Tirtayasa, dan Buya Amin Koper.

Tiga tokoh NU Banten ini sering sekali berhubungan untuk membicarakan strategi pertahanan kaum nahdliyyin dari serangan kaum Muhamadiyyah. Ustad Karman, salah seorang santri Petir mengisahkan sering sekali KH. Abdul Kabir mengamantinya untuk sekedar menyampaikan salam kepada Buya Amin. Suatu saat, KH. Abdul Kabir mengatakan kepada ustad Karman, “sampaikan kepada Buya Amin bahwa abah dalam keadaan sehat, dan sampaikan salam abah untuk Buya!”.

Setelah sampai di Koper dan menyampaikan amanat KH. Abdul Kabir, kemudian Buya Amin mengatakan, “alaika waalaihissalam Sampaikan juga salam abah kepada Ki Kabir dan khabarkan bahwa Abah juga dalam keadaan sehat dan mohon maaf karena kemarin kecolongan Ki Banjar lolos ceramah di Rancailat.”
Ki Banjar adalah seorang penceramah yang dikenal telah masuk muhammadiyah. Ketika itu di petir dan kresek sangat ketat pengawasan buya amin dan ki kabir untuk tidak membiarkan ada penceramah Muhamadiyah masuk ke Petir dan kresek. Ki Banjar kemudian masuk kembali ke pangkuan NU di akhir hayatnya.

Pada muktamar NU di Situbondo tahun 1984 diputuskan bahwa NU kembali ke Khittah Ashliyyah Nahdliyyah 1926 dan tidak terjun ke dalam politik praktis. Sejak itulah Buya Amin mengurangi aktifitas keorganisasian dan memilih aktif mengawal umat dalam ubudiyyah kepada Allah Swt sampai beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 1415 H.

KELUARGA BUYA AMIN

Buya Amin menikah dengan enam orang isteri yang dinikahi sendiri-sendiri dan dua diantaranya dengan di jama. Pertama kali beliau menikah dengan Nyai Ratmah dari Dangdeur Balaraja tidak dikaruniai anak.
Kedua menikah dengan Nyai hajjah santi dari srewu binuang dikarunia seorang anak yang bernama H. sayuthi. Ketiga Buya menikah dengan Nyai hajjah maemunah putri Syekh Muhammad ramli dari cideng Kresek dikaruniai dua orang anak yaitu Musyarrofah dan KH. Ma’ruf Amin yang kini menjabat Ketua MUI pusat dan Dewan Penasihat presiden susilo Bambang yudoyono.

Keempat beliau menikah dengan Nyai Hajjah Nurjannah dan dikaruniai anak 12 yaitu: H. Abdurrouf Amin, Afifah, Atiqah, Asyiqah, Afiyah, Athirah, KH. Ma’luf Amin, Ma’fuf Amin, Abiqah, Masyruf Amin, Malthuf Amin, maksyuf Amin, dan Abdullah Amin.

Yang terakhir dengan di jama bersama Nyai Hajjah Nurjannah Buya Amin menikah dengan Nyai Hajjah Mardhiyyah dan di karuniai anak 7 yaitu: K. Busyairi Amin, budairi Amin, nikmatullah Amin, muflihah, Bunyanuddin Amin, Sirajul Millah Amin dan Murtafiah. Beliau juga menikah dengan nyai Hajjah dzurriyah binti KH. Abdurrahman Pendawa tidak dikaruniai anak.

SANAD KEILMUAN BUYA AMIN BIN ABDULLAH

Buya Amin banyak berguru kepada para ulama, kiayi dan habaib yang tak terhitung dan tidak diketahui banyaknya. Namun dari banyaknya para guru beliau penulis ingin menyebutkan salah satu sanad beliau dalam keilmuan melalui Syekh tohir alfalamuni al-Bantani. Adapun silsilahnya adalah:
1. Nabiyyina wa Habibina Muhammad saw.
2. Saidina Abdullah bin Umar ra.
3. Imam Nafi Attabi’i
4. Imam Malik
5. Imam Muhammad bin idris As-syafi’i
6. Imam Al-muzani
7. Imam Abdul Malik
8. Imam Alghazali
9. Imam Abdul Kari mar-Rafi’i
10. Imam kamal Al-Asy’ari
11. Imam Yahya An-nawawi
12. Imam Abdurrahman Al-iraqi
13. Imam Umar Al-bulqini
14. Imam Tajuddin as-Subki
15. Imam Ahmad Al-Mahalli
16. Imam Zakariya Al-Anshori
17. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami
18. Syekh zaenuddin Al-Malibari
19. Syekh Zaini Dahlan
20. Syekh Nawawi Al-Bantani
21. Syekh Husain Carita Al-Bantani
22. Syekh Abdul Halim Al-Bantani
23. Syekh tohir Al-falamuni Al-bantani
24. Syekh Muhammad Amin bin Abdullah Al-Kubairi Al-bantani

SANAD SILSILAH NASAB
1. Nabiyuna Wahabibuna Muhammad Saw
2. Siti Fatimah Azzahra
3. Saidina husen
4. Imam Ali zaenal Abidin
5. Imam Muhammad Al-baqir
6. Imam ja’far As-shodiq
7. Imam Ali Al-Uraidi
8. Imam Muhammad An-naqib
9. Imam Isa An-Naqib
10. Imam Ahmad al Muhajir ilallah
11. Imam Ubaidillah bin ahmad
12. Sayyid Alawi bin ubaidillah
13. Imam sayyid Muhammad bin Alawi
14. Sayyid Alawi bin Muhammad
15. Sayyid Ali Qosam
16. Sayyid Muhammad Sahib Mirbath
17. Sayyid alawi bin Muhammad sahib
18. Amir abdul Malik
19. Malik Abdullah adzomat Khan
20. Sayyid Ahmad syah Jalal
21. Maulana Jamaluddin Akbar Husain
22. Ali Nuruddin
23. Malik Amatuddin Abdullah
24. Maulana syarif hidayatullah
25. Maulana Hasanuddin
26. Maulana yusuf
27. Maulana Muhammad Nashruddin
28. Sulthan Abul Mufakhir
29. Raden saleh
30. Raden Mahmud
31. Syekh hasan Bashri Cakung
32. Syekh Ibrohim
33. Syekh Abdullah
34. Syekh Alim
35. Nyi Kanisah
36. Nyi kati
37. Ki Abdullah
38. Syekh Muhammad Amin Koper

WAFATNYA SYEKH MUHAMMAD AMIN BIN ABDULLAH

Manusia mulia ini mengisi hidup dengan pengabdian kepada Allah. Membimbing umat menuju keridoanNya. Pada tanggal 16 Safar 1415 h. isterinya yang terakhir yaitu Nyai Hajjah Mardiyyah di tegal Kamal meninggal dunia. Buya Amin mengatakan setelah isterinya itu wafat bahwa ia ingin segera kembali ke tanah kelahirannya di Koper. Rupanya itu adalah sebuah isyarat bahwa tak lama lagi ia pulang ke hadirat dzat yang di rindukannya yaitu Allah Swt. Pada subuh hari Sabtu tanggal 12 Rabiul awal 1415 H. bertepatan dengan hari

kelahiran Kekasihnya yakni Nabi Muhammad Saw,belum genap satu bulan dari wafatnya isterinya, Buya Amin pergi ke hadirat Arrofiqul’a’la Allah azza wajalla. Kemudian beliau di makamkan di maqbarah semit di Koper.

FAIDAH: SANAD SEBAGIAN ULAMA KETURUNAN SYEKH HASAN BASHRI DAN SYEKH CILIWULUNG CAKUNG.

Dalam faidah ini, penulis ingin menyebutkan sanad sebagian kiayi pengasuh pesantren dan ulama yang mempunyai garis keturunan dari Syekh hasan Bashri dan syekh Ciliwulung Cakung. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat jalinan silaturahmi dan persatuan para ulama-ulama dalam mengawal umat menuju ridlo Allah swt. Banyak juga ulama yang bernasab kepada syekh ciliwulung atau Syekh hasan Bashri yang tidak dapat disebutkan karena kekurangan data:
Syekh Astari: bin Ki Maulana Ishaq bin Ki Muhammad Rafiuddin bin Nyi Ratu Antimah bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri. Syekh Makmun: bin Nyi dzuriyah bin Ki Dangi bin Nyi Ratu Antimah binti Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri. Atau syekh ma’mun bin Syekh Muhamad Ali Al Madinah bin Ki soiman bin hasan bin syekh Zen bin Ki Cinding bin Syekh Ciliwulung.
KH. Bushro: bin Syekh zen bin Nyi Darwinah binti Syekh Dangi bin Nyi Ratu Antimah bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri. Atau KH. Busyro bin Ki Zen Bin Muhamad Ali bin Ki soiman bin Ki hasan bin syekh Zen bin Ki Cinding bin Syekh Ciliwulung.
KH. Salim: bin Syekh zen bin Nyi Darwinah binti Syekh Dangi bin Nyi Ratu Antimah bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri. Atau KH. Salim bin Ki Zen Bin Muhamad Ali bin Ki soiman bin Ki hasan bin syekh Zen bin Ki Cinding bin Syekh Ciliwulung.
Syekh Mufti (pengasuh Ponpes Darul Hikmah Srewu): bin Asnawi bin Bahauddin bin Ki Ramli bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
KH. Maruf Amin: bin Syekh Muhammad Amin bin Abdullah bin Nyi Kati binti Nyi Kanisah bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
KH. Syatibi (Pengasuh pesantren al-hikmah Jakarta): bin Abdul Ghani bin Nyi Haji Armunah bin Ki Usman bin Ki Bendo bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
H. Imaduddin Utsman (Pengasuh Pesantren NU Cempaka): bin Nyi Suarah binti Nyi Haji Aminah bin Nyi Haji Armunah bin Ki Usman bin Ki Bendo bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
Syekh syarif Cakung (Ki Ayip): bin Nyi Ratu Antimah binti Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
KH. Latif Humaidi (pengasuh Pesantren Al-Falah): Bin Nyi Fatimah bin Ki Mushtofa bin Nyi Mastu bin Syekh Ismail bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
K. abdul Halim Cakung: bin Halimi bin Nyi Ratu sarwati bin Ki Jahari bin Ki As’ad bin Nyi ratu Antimah bin Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
K. Umar cakung: bin Syamsul ma’arif bin Ki Abdul faqar bin Ki As’ad bin Nyi ratu antimah binti Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri.
KH. Ali Zen (pengasuh ponpes Al-Hikmah Pendawa): bin KH. Nurzen bin KH. Abdurahman bin ki Astari bin Ki Hasan bin Ki Soiman bin Ki Abdullah bin Ki Mubarok bin Ki Ilyas bin Ki Cinding bin Syekh Ciliwulung.
KH. Fakhruddin Lempuyang: bin Ki Soleh bin Ki Mulud bin Ki Sohari bin Ki Ahmad Nafis bin Ki Abdul Akhir (Ki Adung) bin Ki Karomuddin bin Ki Sauddin bin Syekh Ciliwulung.
KH. Abdul galib: bin Nyi Kadanah binti Ki Bashir bin Nyi Mayi binti Nyi Runi binti Nyi Shofiyah (Nyi Buyut Ketul) bin nyi Syarifah/Sarwinah binti syekh Hasan Bashri.
KH. Sofwatuddin (Pengasuh Ponpes Darul Hikmah srewu): bin Nyi Sutihat binti Ki soleh bin Ki Mulud bin Ki Sohari bin Ki Ahmad Nafis bin Ki abdul akhir (Ki Adung) bin Ki Karomuddin bin Ki sauddin bin Syekh ciliwulung. KH. Mukit Laban: bin Nyi Hawa bin Ki Mulud bin bin Ki Sohari bin Ki Ahmad Nafis bin Ki Abdul Akhir (Ki Adung) bin Ki Karomuddin bin Ki Sauddin bin Syekh Ciliwulung. KH. Abdul Maram: bin Nyi Hajjah dzurriyah binti KH.Abdurrahman bin ki Astari bin Ki Hasan bin Ki Soiman bin Ki Abdullah bin Ki Mubarok bin Ki Ilyas bin Ki Cinding bin Syekh Ciliwulung.
KH. Maimun Ali (Pengasuh Ponpes Subulussalam): bin Nyi Haji Danah bin Ki Ali bin Nyi Hawa Bin Nyi Ami bin Ki Alim bin Ki Abdullah bin Ki Ibrohim bin syekh Hasan Bashri
Syekh Asnawi Caringin: bin Nyi Mastijah binti Ki amba bin Ki Cinding bin Syekh ciliwulung.
Syekh Ismail Belod: bin Ki Ules bin Ki dana bin Ki Ikram bin Ki sueb bin Syekh Ciliwulung
Ki Syafei kebon Jeruk: bin Ki Makiya bin ki Aspa bin Ki Sahal bin Ki Hasan bin Ki Nung bin Ki Zen bin Ki Cinding bin syekh Ciliwulung.
Ki Amran Bugel: bin Ki Muhammad bin Ki Alim bin Ki Abdullah bin Ki Ibrohim bin Syekh Hasan Bashri. KH. Hudri lempuyang: bin Ki Mulud bin Ki Sohari bin Ki Ahmad Nafis bin Ki abdul akhir (Ki Adung) bin Ki Karomuddin bin Ki sauddin bin Syekh ciliwulung. KH. Humed Endol: Bin Ki Aryani bin …bin ki Abdul akhir (Ki Adung) bin Ki Karomuddin bin Ki sauddin bin Syekh ciliwulung.

KH. Fudel Lempuyang: bin Ki Soleh bin Ki Mulud bin Ki Sohari bin Ki Ahmad Nafis bin Ki abdul akhir ( Ki Adung) bin Ki Karomuddin bin Ki sauddin bin Syekh ciliwulung.

KH. Fahri Aslam: bin Nyi Fatimah bin Nyi Asybah bin Ki Asnawi bin Ki Abdul latif (Ki Atif) bin ki karomudin bin ki sauddin bin syekh Ciliwulung
KH. Fathoni Lempuyang: bin Ki Usman bin nyi cilik binti ki abdul rasyid bin Ki Abdul akhir (ki Adung) bin ki karomuddin bin ki sauddin bin syekh ciliwulung

KH. Jarnuji lempuyang: bin Ki Salim bin ki as’ad bin ki hasan bin ki ali bin abdul latif (Ki Atif) bin ki karomuddin bin ki sauddin bin syekh ciliwulung
KH. Sanwani Kelapiyan dan KH. Abdul goffar: bin Nyi saodah binti ki ali bin kiabdul latif (ki atif) bin ki karomuddin bin ki sauddin bin Syekh ciliwulung.

KH. Baikandi (Pengasuh Pesantren Darul arham Rajeg) bin Abdul gani bin Burhan bin Abdul Jabbar bin Sufyan bin Asma bin Abdulatif bin Karomuddin bin Sauddin bin Syekh ciliwulung.
Waalahu a’lam bishowab.

Tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan bagi perbaiakan tulisan berikutnya.
1 Rabiul awal 1433 H/25 Januari 2012

Penulis
H. Ma’luf Amin, S.Pd.
H. Imaduddin Utsman, S.Ag. MA

oleh:
H. Imaduddin Utsman, S.Ag. MA.

Sumber : dikutip dari Artikel Pondok Pesantren Salafiyah Keresek Tangerang.

(Lee/Red)

NO COMMENTS

Leave a Reply