Meniscayakan Landmark

Meniscayakan Landmark

0 74

Meniscayakan Landmark

“Oleh. Eko Supriatno”
Apa yang kita pikirkan pertama kali ketika
mendengar kata Banten? Kabupaten Pandeglang
khususnya. Ada beberapa yang menyebutnya dengan Maritim, Badak, Nelayan, dan masih banyak lainnya.

Semuanya hampir benar, namun apakah kita semua sudah yakin bahwa itu semua merupakan ciri khas dari Provinsi Banten atau Kabupaten Pandeglang?
Agak disayangkan memang, namun justru dari
sinilah seharusnya kita sudah memikirkan sebuah branding agar daerah yang kta cintai
ini dapat dan mudah untuk dikenali.
Menurut penulis, keberadaan penanda wilayah (landmark; tetenger (jw)) bagi
suatu kota adalah sesuatu yang “amat penting”, dimana akan menjadikan kota itu lebih
mudah diingat publik. Lebih jauh, landmark juga menjadi cerminan sekaligus spirit kota
yang dapat dibaca dalam retorika kebudayaan (lokal). Beberapa kota—di Indonesia
maupun dunia—secara relatif telah memiliki landmark yang dengan segera
mengingatkan publik akan kota tersebut. Seperti Tugu Monumen Nasional (Monas) di
Jakarta—di samping Tugu Selamat Datang atau Bundaran Hotel Indonesia (HI), Tugu
Muda di Semarang, Tugu Pahlawan di Surabaya, Patung Singa lengkap dengan air
mancurnya di Orchard Road Singapura, Menara Petronas di Kuala Lumpur, Patung
Liberty di Amerika Serikat maupun kubah keong Sydney Opera di Sidney sebagai misal.
Sebuah landmark selain sebagai sebuah kesatuan-bangun juga harus
mencerminkan spirit, potensi, atau lokalitas sebuah kota yang hendak diidealkan
sebagai keunggulan komparatif sekaligus keunggulan kompetitif. Soal bentuk misalnya,
masyarakat Labuan perlu berpikir bentuk selain ikan, ikon Banten yang telah mendunia.

Masyarakat Banten dapat mengeksplorasi, landmark tidak melulu harus
berbentuk klasik. Landmark pun dapat berbentuk kontemporer, dan hendaknya bersifat
fungsional. Landmark tidak harus berujud tugu atau benda-benda yang memang
dirancang sebagai penanda semata. Justru landmark yang dipersepsi publik dari
bangunan-bangunan yang memang memiliki kegunaan tertentu—semisal teater di
Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali; gedung perkantoran seperti World Trade Centre
(WTC) New York maupun Menara Petronas; gedung instansi pemerintahan sebagaimana
White House di Washington DC, Gedung MPR/DPR maupun Gedung Bundar Kejagung;
atau sebagai monumen seperti Monas—akan memiliki manfaat yang langsung dapat dirasakan publik.

Begitupun dengan Pandeglang sebagai kabupaten yang sedang membangun
retorika citra kota perlu berpikir untuk mendesain sebuah landmark sebagai penanda
kotanya. Tak hanya Labuan, karena provinsi dan kabupaten/kota di Banten sendiri
belum banyak memiliki landmark yang representatif.

Dalam konteks Labuan (tempat tinggal penulis), landmark yang hendak
dibangun lebih tepat memiliki fungsi sebagai ruang terpuka (open space) berbentuk
teater terbuka (open theatre) bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan. Atau bisa juga
dibangun sebuah Tugu untuk melambangkan keperkasaan Nelayan Labuan. Tugu yang
keberadaannya di tengah-tengah Kota dijadikan sebagai acuan kabupaten.

Begitupun dengan City brand, di Solo kita mengenal Solo sebagai Spirit of Java,
Jogja: Never Ending Asia, Pekalongan world’s of city of Batik, Sparkling Surabaya, Enjoy
Jakarta, dan lain sebagainya. Mereka sudah mempersiapkan diri sejak lama, bahkan
akhir-akhir ini kita mendengar juga bahwa Semarang juga sedang membangun kembali
City Branding-nya, Jogja Darurat Logo. Apakah Kabupaten Pandeglang diam saja? Kita
butuh orang-orang yang haus akan identitas Kabupaten Pandeglang. Sebuah identitas
yang sangat perlu dicanangkan untuk mempermudah promosi sebuah daerah.

Menurut Van Gelder (2003) dari laman MoncyArt, persyaratan suatu city brand
tidak jauh dari persyaratan merek atau branding pada umumnya, yaitu: “City brand
harus menunjukkan kondisi kualitas dari kota atau daerah yang sebenarnya. City brand pada
kenyataannya bukan merupakan cita-cita atau visi semata-mata yang ingin dicapai, tetapi adalah kenyataan yang sebenarnya yang menggambarkan kondisi kota tersebut. City brand juga bukan pula merupakan semata-mata suatu janji, tetapi adalah janji yang ditetapi ketika orang tinggal,
hidup, menetap atau sekedar berkunjung ke dalam suatu kota. City branding memaparkan
sesuatu yang baik dari kota. Bukan menjelaskan kekurangan atau sisi buruk dari kota tersebut.
City brand harus mudah diucapkan, dikenal. diingat, dijiwai, dihayati dan dipahami oleh tidak
hanya penduduk kota, tetapi juga bagi setiap orang yang melihat, membaca dan mendengarnya.

City brand harus mudah terbedakan, oleh karena itu harus spesifik dan khas. City brand harus
mudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris harus menggambarkan
pengertian yang sama dan identik, sehingga tidak membingungkan orang yang mengetahuinya.

City brand harus bisa memperoleh hak untuk didaftarkan dan mendapat perlindungan hukum”.
Urusan Bersama
Memang sebuah landmark dan City Branding bukan infrastuktur fisik yang
dampaknya akan terasa langsung oleh rakyat—seperti jalan, fasilitas umum dan fasilitas
sosial. Namun, bila kita hitung dampak-ikutannya (multiflier effect), keberadaan
landmark baru terasa kemudian. Di sektor ekonomi, landmark dan City Branding akan
menjadi gula-gula ekonomi baru yang mengundang bangkitnya investasi termasuk
investasi sektor ekonomi nonformal bila landmark dan City Branding itu sekaligus
dijadikan kawasan kunjungan wisatawan. Secara politik dan kultural, keberadaan
landmark akan menyajikan citra (image) kota yang menegaskan keberadaan kota dalam
pergaulan antarkota baik di wilayah regional, nasional, maupun global. Sehingga,
pembangunan sebuah landmark yang dilakukan secara kritis dan tidak korup tentulah
bukan sebuah proyek mercusuar semata.

Banyak yang mengira urusan landmark ataupun City Branding merupakan urusan
pemerintah, buat apa kita turut campur? Pernah terbayangkan tidak ketika daerah kita
sendiri terkenal? Pembangunan di daerah menjadi lebih cepat, banyak UMKM yang
meraup laba lebih, produk-produk lokal bisa dipasarkan ke luar daerah bahkan ke luar
negeri, kita pun nantinya secara tidak akan langsung akan merasakan dampaknya
secara tidak langsung.

Perlu kita ketahui bersama, pembangunan landmark ataupun City Branding di
kota-kota lain melibatkan banyak kalangan. Tidak melulu dari pemerintah setempat,
tapi juga dari tokoh masyarakat, seniman, budayawan, aktivis media sosial, organisasi-
orgasisasi, dan orang-orang yang berkompeten lainnya seperti yang memiliki
kompetensi dalam pembangunan tata kota, ilmu pemasaran, dan filsafat. Cukup
komplek bukan? Semuanya campur baur menuangkan ide bersama-sama. Tak hanya
itu saja, bukan tidak mungkin juga diadakanya sayembara untuk pembuatan logo
maupun tagline sebuah kota.

“Menggagas Landmark dan City brand adalah Keniscayaan” mengingat
kesempurnaan sebentuk bayangan yang tak kunjung hinggap. Sekecil apapun ide kita,
tentunya akan sangat bermanfaat demi kemajuan Banten. Hampir semua kota sudah
mulai berbenah, sudah saatnya Banten juga ikut berbenah. (Red – DetikBantencom)

NO COMMENTS

Leave a Reply