Minggu, September 30, 2018
Advetorial

0 77

DetikBantencom. Kota Cilegon – Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari Sistem Kesehatan di suatu daerah. Kemajuan atau kemunduran Sistem Informasi Kesehatan selalu berkorelasi dan mengikuti perkembangan Sistem Kesehatan, kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bahkan mempengaruhi Sistem Pemerintahan yang berlaku di suatu Daerah. Suatu system yang terkonsep dan terstruktur dengan baik akan menghasilkan Output yang baik juga.

SIK di kota Cilegon Saat Ini Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Masih Terfragmentasi Serta Belum Mampu Menyediakan Data Dan Informasi Yang Akurat, Sehingga Sik Masih Belum Menjadi Alat Pengelolaan Pembangunan Kesehatan Yang Efektif. Kesenjangan Aliran Data (Terfragmentasi, Banyak Hambatan Dan Tidak Tepat Waktu) masih jadi factor penghambat, Ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon Arriadna. Jumat (28/9/2018).

Dari maslah-masalah angka kematian dan kesakitan seperti AKI, AKB, PTM masih menggunakan perhitungan manual, ini yang menjadi perhatian kita kedepan semua hal tersebut dapat di lihat di dashboard Dinkes, agar kita dalam melakukan pernecanaan kegiatan dan pengambilan keputusan untuk pembangunan kesehatan di Kota Cilegon tepat dan cepat.

Dalam rapat hari ini kita mengundang pengurus asosiasi klinik Kota Cilegon untuk dapat bekerjsama dalam penerapan SIK terintegrasi di Kota Cilegon “Kami mengharapkan Asklin Cilegon bisa bekerjasama dalam mewujudkan satu data Kesehatan di Kota Cilegon sebagai dari amanat Permenkes Nomor 92 tahun 2014”
Dengan penerapan SIK terintegrasi ini kedepan dokter di klinik bisa mendapatkan medical record pasien secara mudah “Tinggal Panggil dengan NIK, data medical record pasien akan muncul dan diketahui oleh Dokter” Jelasnya

Rapat ini di hadiri oleh Pengurus Asklin Kota Cilegon, dan dari Diskominfo Cilegon. (Lux)

0 201
Nana Sopinah menjadi penerima program jamsosratu dari Dinsos Provinsi Banten sejak tahun 2016. Kini Sudah berwirausaha. Foto Istimewa. #detikbantencom

Detikbanten.com – Nana Sofinah adalah seorang ibu yang sudah berpisah dengan suaminya yang menanggung beban kehidupan sendiri dengan memiliki 3 putri. Yang sulung sudah berkeluarga dan Nana Sofinah tinggal di rumah orangtuanya yang beralamat di Kampung Baleman RT 004/RW 001 Desa Pasir Ampo Kecamatan Kresek Kabupaten Tangerang.

Kediaman Nana Sofinah, Kampung Baleman RT 004/RW 001 Desa Pasir Ampo Kecamatan Kresek Kabupaten Tangerang. Foto Istimewa. #detikbantencom

Nana Sofinah masih menanggung biaya kedua putrinya yang masih bersekolah, Syifa Alviona sekolah di SMPIT kelas 9 di Kampung Soge RT 001/001 Desa Patrasana Kecamatan Kresek, Agis Larasita sekolah di MI Riyadhul Mubtadhiin Kampung Pasir Gangsa RT. 005/002 Desa Pasir Ampo Kecamatan Kresek.

Nana Sopinah menjadi penerima program jamsosratu dari Dinsos Provinsi Banten sejak tahun 2016, karna ia berjuang seorang diri untuk menghidupi keluarga dan ia sekarang sedang membangun wirausaha konveksi rumahan yang memproduksi pelampung (safe vest).

Pendamping Jamsosratu Kecamatan Kresek Zaenal, selalu berupaya memberikan bimbingan dan motivasi bagi Nana Sofinah sebagai Rumah Tangga Sasaran (RTS) binaannya agar memiliki motivasi dan kemauan keras untuk maju.

“Sudah menjadi tugas kami selaku pendamping untuk mengupayakan perubahan (mindset) para penerima Jamsosratu agar meningkat keberdayaan dan keberfungsian sosialnya, hingga diharapkan kedepan akan tercipta kemandirian sosial mereka,” ujar Zaenal.

Dari hasil bimbingan pendamping Jamsosratu, Nana Sofinah saat ini memulai produksi pelampung yang sudah di order ke jakarta dalam sebulan dua kali pengiriman pelampung dengan jumlah 215/pcs dengan harga Rp. 39.000, Awal mulai berproduksi bulan Mei 2018 di Kampung Karang Jetak Rt 009/RW 003 Desa Kandawati dengan status tempat produksi masih sewa/kontrak. dengan jumlah karyawan 4 orang.

Sebagai peserta jamsosratu binaan Dinsos Provinsi Banten, Nana Sofinah mengharapkan adanya program berkelanjutan dri pemerintah melalui dinsos Provinsi Banten dalam pembinaan dan pelatihan kepada para penerima jamsosratu untuk meningkatkaan penghasilan keluarga penerima manfaat program Jamsosratu, Agar bisa memutuskan mata rantai kemiskinan.

“Kendala pemasaran dan tantangan permodalan masih menjadi kendala utama dalam membangun usaha, begitu juga pemasaran produk saat ini baru melalui rekan usaha melalui medsos WA Group dan facebooke. untuk belanja bahan baku, Nana belanja ke daerah kotabumi dan pasar tanah abang,” Imbuh Zaenal.

Kasie Jamsoskel Dinsos Provinsi Banten Budi Dharma di tempat kerjanya pada detikbantencom Kamis (19/7/2018) mengatakan, bahwa pihaknya melalui para pendamping memang mendorong agar peserta Jamsosratu selain meningkat derajat kesehatan dan pendidikan, anak anaknya juga dapat merubah pola pikir mereka agar lebih berdaya secara sosial.

”RTS Jamsosratu memang kami endorse melalui para pendamping untuk meningkatkan keberdayaan dan keberfungsian sosial mereka. Saya sangat apresiatif terhadap kemauan Bu Nana ini dalam berupaya untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. ini salah satu cerita sukses sebuah program yang memiliki multiplier effect yang besar bagi penerimanya seperti Jamsosratu. hal ini juga dapat menjadi motivasi bagi peserta jamsosratu lainnya agar bersemangat mengatasi keterpurukan mereka,” kata Budi.

Selain itu Nana Sofinah selaku Penerima Jamsosratu Dinas Sosial Provinsi Banten dirinya merasa termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan.

“Sebagai seorang Janda beranak dua apalagi dengan kondisi ekonomi yang sangat pas pasanan memang cukup berat menjalani hidup, alhamdulillah berkat perhatian Pemerintah provinsi Banten melalui program Jamsosratu ini sangat bermanfaat. Selain memotivasi Saya untuk melanjutkan sekolah anak anak setinggi tinggi nya, juga saya berterimakasih kepada  para pendamping selalu memberikan motivasi  kami sekeluarga dapat berupaya mandiri secara sosial. Ya inilah salah satu upaya saya dengan berwirausaha, dengan sedikit modal dan kemauan Alhamdulillah walau selangkah demi selangkah usaha ini terus berjalan” ujar Nana Sofinah.

Budi Dharma menceritakan Keberhasilan Penerima Jamsosratu dari Dinsos Provinsi Banten juga dirasakan oleh Julekah kelahiran 1997 putri Junaedi dan ibu Napsah asal kampung Parumasan Rt 06/04 kelurahan kalang anyar Kec. Taktakan. Kota Serang.

Setelah menjadi anggota jamsosratu, Julekah  diberikan motivasi oleh pendamping untuk lulus sekolah hingga minimal jenjang SLTA. dan meski dalam yang serba kekurangan dan hanya mengandalkan bantuan jamsosratu untuk membiayai pendidikannya, akhirnya Julekah  bisa menyelesaikan pendidikannya di SMK.

Julekah selaku Penerima/peserta Jamsosratu Asal Taktakan Kota Serang, Kini berhasil dan Sudah Bekerja sebagai Operator Bank diwilayah Parung Bogor Jawa Barat. Foto Istimewa. #detikbantencom

Setelah lulus dia berusaha untuk mendapatkan pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarga. Pendamping Jamsosratu memberikan info lowongan kerja di bank BTPN dan setelah melalui tes yang kompetitif akhirnya Julekah  diterima bekerja di Bank BTPN dan ditugaskan di daerah parung bogor.

“Sejak Jamsosratu mulai tahun 2013 Menurut saya justru adanya peningkatan ekonomi yang seperti inilah yang menjadi tujuan utama jamsosratu sehingga dapat memotong mata rantai kemiskinan Dan anaknya lulus SMK tahun 2016 dan mulai bekerja di bank BTPN sejak akhir 2016 Dia anak pertama Junaedi Dan Julaekah sekarang hampir tiap bulannya memberikan uang ke orangtunya Maklum bapaknya pengangguran dan ibunya hanya buruh pembuatan emping Untuk membantu biaya adik adiknya,”imbuh Budi. (Lee/Red)

0 141

Detikbanten.com – Alumni SMAN 1 Serang Angkatan 1993 menggelar Keraton Kaibon Culture Festival di reruntuhan Kaibon, Banten lama, kecamatan Kasemen, Kota Serang, Sabtu (30/06/2018).

istimewa

Dalam acara tersebut menampilkan kebudayaan tradisional Banten, yakni rampak bedug, tari tradisional, silat, debus, hingga gerabah khas Banten.

“Insha Allah dalam tahun ini, Pemerintah Banten akan merevitalisasi Banten Lama. Jadi jangan sampai Banten Lama, tidak seperti sekarang, mudahan kedepan bisa lebih baik lagi,” kata Gunawan Roesminto, Ketua Panitia Festival Budaya Kaibion, dilokasi acara, Sabtu (30/06/2018).

Selain menampilkan kebudayaan dan seni asli Banten, Keraton Kaibon Culture Festival pun sebagai wadah menjadi ajang silaturahmi alumni SMAN 1 Serang angkatan 1993. Sudah 25 tahun tidak bertemu.

“bisa juga menukar pikiran sampai menukar rejeki. Kalau ada temen kita yang kesusahan, bisa saling bantu,” terangnya.

Ia berharap acara seperti Keraton Kaibon Culture Festival diharapkan bisa terus dilanjutkan, sebagai salah satu cara untuk menarik wisatawan, terutama mancanegara untuk datang ke Banten.

“Saya berharap dengan kegiatan bisa membantu pemerintah (Dinas Pariwisata-red) untuk memajukan potensi-pontensi yang ada di Provinsi Banten,” paparnya.

istimewa

Ditempat yang sama, pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten Juliadi menambahkan, kegiatan Ini, salah satu bentuk untuk memperkenalkan budaya di Banten agat bisa dilestarikan

“Mudah-mudahan cagar budaya yang ada di Banten, bisa lebih kita manfaatkan,” kata Juliadi,

Ia menjelaskan, jika ada pihak yang ingin menggelar event di situs Kesultanan Banten, harus mengikuti prosedur yang ada. Agar tak merusak cagar budaya.

“Proses ijin sangat ketat, karena cagar budaya rentan rusak. Suatu cagar budaya jika di diamkan, nilainya tidak seberapa. Jika ada kegiatan, dengan rambu-rambu yang ada, maka ada nilai tambahnya,” pungkasnya. (Aden)

0 103

DetikBantencom – Rumah Aspirasi Rakyat Asep Rahmatullah adalah rumah aspirasi untuk suara masyarakat Banten, rumah AR ini didirikan oleh relawan atau simpatisan Asep Rahmatullah untuk membangun tali silaturahmi masyarakat kalangan bawah.

Rumah Aspirasi rakyat ini nantinya akan menampung dan akan menindaklanjuti dimana aspirasi masyarakat banten dengan keluhan yang ada diseluruh penjuru pelosok banten. Seperti keluhan, Kesehatan, Pendidikan, Infrastruktur, layanan Masyarakat, kejenjangan sosial, Rumah tidak layak huni (Rutilahu), Duafa, dan pengaduan tindak dugaan Korupsi yang dilakukan oleh oknum pemerintah.

Direktur Rumah Aspirasi Rakyat Asep Rahmatullah, yang enggan disebutkan namanya ini, saat konfrensi pers disalah satu rumah makan dikota serang, minggu (3/6/2018),  Mengatakan, Rumah aspirasi Rakyat ini adalah wadah suara rakyat, dimana masyarakat ingin mengadukan keluhannya, Rumah Aspirasi Rakyat menampung dan menyampaikannya kepada wakil rakyat langsung yaitu Ketua DPRD Banten Asep Rahmatullah. Agar aspirasi rakyat selalu direspon atau ditindaklanjuti langsung oleh pemerintah daerah maupun pusat,” ungkapnya.

Selain itu, tidak dipungkiri. Rumah Aspirasi Rakyat Asep Rahmatullah ini adalah bentuk dukungan masyarakat banten, kembali mendukung Asep Rahmatullah menjadi wakil Rakyat Banten dua periode.

“Ya tidak dipungkiri lagi, Rumah Aspirasi Rakyat ini adalah wadah dukungan rakyat untuk kembali mendukung pak Asep Rahmatullah menjadi wakil Rakyat di DPRD Provinsi Banten dua periode. Bliau adalah satu satunya wakil rakyat yang selalu benar memperhatikan rakyatnya, karna itu kami selaku simpatisan membuat suara Rakyat menjadi wadah yaitu Rumah Aspirasi Rakyat untuk Asep Rahmatullah,” tutupnya. (J/Red)

0 319

BANTEN – Pemilihan umum menjadi salah satu indikator stabilitas  dan dinamisnya demokratisasi suatu bangsa. Di Indonesia, penyelenggaraan pemilu secara periodik sudah berlangsung sejak tahun 1955, akan tetapi proses demokratisasi lewat pemilu-pemilu yang terdahulu belum mampu menghasilkan nilai-nilai demokrasi yang matang akibat sistem politik yang otoriter. Harapan untuk menemukan format demokrasi yang ideal mulai nampak setelah penyelenggaraan Pilkada Gelombang 1 dan 2 lalu yang berjalan relatif cukup lancar dan aman.

Untuk ukuran bangsa yang baru beberapa tahun lepas dari system otoritarian, penyelenggaraan pemilu 2004 yang terdiri dari pemilu legislatif dan pemilu presiden secara langsung yang berjalan tanpa tindakan kekerasan dan kekacauan menjadi prestasi bersejarah bagi bangsa ini. Tahapan demokrasi bangsa Indonesia kembali diuji dengan momentum pemilihan Kepala Daerah langsung yang telah berlangsung sejak 2005. Momentum pilkada idealnya dijadikan sebagai proses penguatan demokratisasi.

Melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, maupun UU No 8 Tahun 2015 Melelui pilkada langsung dan serentak, kita berupaya untuk memperbaiki perjalanan demokrasi yang berlangsung selama ini, seperti memutus penyalahgunaan kekuasaan yang menjadi kelemahan pada mekanisme demokrasi sebelumnya.  Sebab, kekuasaan sendiri telah menyebar hingga ke daerah. Pada titik inilah, demokrasi lokal akan menjadi sokoguru demokrasi nasional, seklaigus akan menentukan kualitas demokrasi secara keseluruhan.

Harapan besar mengenai implikasi Pilkada langsung ini,rakyat berharap dapat mengetahui dan memahami isi yang terkandung dalam undang-undang, sehingga lebih dapat meningkatkan pengetahuan serta wawasan politik atau pendidikan politik yang lebih dewasa terutama lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintah daerah. Implikasi lebih lanjut melalui pemahaman  undang–undang tersebut akan membuat rakyat menjadi paham politik, membangun tingkat kesadaran dalam berpolitik, serta masyarakat lebih kreatif dalam memilih calon kepala daerah yang mempunyai pemikiran yang ingin membangun daerahnya untuk maju dan sejahtera serta pelayanan publik yang lebih baik.

Momentum Partisipasi Masyarakat

Tidak terlalu sulit untuk menemukan individu-individu yang bersikap apatis terhadap persoalan politik dalam kehidupan sehari-hari. Sudah berserakan anggapan lumrah bahwa politik merupakan ranah yang penuh dengan intrik dan licik.

Hal seperti di atas tentu dapat dengan mudah kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika disinggung seputar pilkada, caleg dan pilpres mereka (rakyat golongan menengah kebawah) cenderung menghindar dan seakan – akan tidak ingin tahu. Bahkan  mereka cenderung merespon dengan jawaban tidak tahu dan bisa juga naik pitan. Sikap seperti ini tentunya sangat memengaruhi dan bahkan mengancam terhadap proses demokrasi di negara bangsa yang bernama Indonesia ini.

Sikap tidak acuh seperti di atas akan berakibat pada meurunnya partispasi secara elektoral. Pemilu sebagai salah satu instrumen proses pergantian kepemimpinan dalam negara demokratis mendapat perhatian yang lebih. Pesta rakyat lima tahunan  menjadi tanda bahwa negara ini merupakan negara demokratis. Milbart dan Goel, membedakan partisipasi menjadi beberapa ketegori; pertama, apatis yaitu orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari proses politik. Mereka adalah warga masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golongan putih, hal ini kadang dianggap sebagai tindakan “haram” dalam proses demokrasi apalagi memobilisasi masyarakat untuk tidak ikut memilih. Di sisi lain, hal ini ditafsirkan

sebagai sikap politik, karena pesimis terhadap proses dan hasil pemilu.Walau pun penerunan partispasi dianggap lumrah di beberapa negara demokratis. Tentunya temuan di atas tadi mengindikasikan adanya penurunan kepercayaan, baik terhadap pemerintah bahkan tidak terkecuali kepada partai politik. Ada semacam evaluasi kinerja pemerintah dari masyarat yang menjadi faktor menurunnya partispasi pada saat pilpres dan pemilu.

Kaitannya dengan demokrasi, partisipasi politik berpengaruh terhadap legitimasi masyarakat terhadap jalannya suatu pemerintahan. Dalam pilkada, legitimasi masyarakat secara kuantitatif sangat berpengaruh terhadap calon pemimpin yang

terpilih. Selain itu, inti (core) dari demokrasi, partisipasi masyarakat sangat berkaitan dengan pemenuhan hak-hak politik dari setiap warga Negara. KPU RI merilis bahwa Pilkada serentak Gelombang Pertama pada 9 Desember 2015 lalu, partisipasi pemilik suara mencapai 70 persen secara Nasional dan sekira 30 persen pemilih yang tidak memberikan hak suaranya.

Politik Uang

Pilkada damai, bersih dan jujur pada hakikatnya adalah keniscayaan yang harus diwujudkan dalam setiap momentum politik. Walaupun realitasnya, masih ada oknum yang bermain curang, yakni menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan politik. Hal tersebut dikhawatirkan akan mengeleminasi nilai-nilai agama, nilai moral atau etika yang telah tertanam dan terbangun sejak lama melalui proses pendidikan.

Hal tersebut patut diwaspadai, atau dicegah mulai diri sendiri dan orang-orang disekitar kita (ibda’ binafsik tsumma man ta’ulu). Diperlukan kesadaran kolektif (bersama), oleh seluruh elemen masyarakat agar menghasilkan pilkada yang

bermartabat dan melahirkan pemimpin yang amanah Sikap apatis rakyat di atas akan berdampak pada semkin maraknya praktek – praktek oknum yang kurang bertanggung jawab (baca: money politic). Tentunya tidak ada seseorang yang bertindak tanpa dimobilisasi. Akan tetapi pertanyaannya mobilisasi seperti apa? Jika mobilisasi sekedar memberi penyadaran terhadap pentingnya partispasi dan pendidikan politik tentunya dalam batas – batas yang wajar. Mobilisasi yang dimaksud yakni berupa insentif uang dan sejenisnya.

Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, toleransi pemilih terhadap politik uang cukup tinggi.”Sebanyak 41,5 persen pemilih menilai politik uang sebagai suatu kewajaran dan hanya 57,9 persen yang menilai politik uang tak bisa diterima. Sementara itu, sekira 28,7 persen responden menyatakan akan memilih calon yang memberi uang. “10,3 responden akan memilih calon yang memberi uang paling banyak,”. Direktur Eksekutif Indikator politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebutkan, salah satu faktor yang menyebabkan politik uang masih digemari masyarakat Indonesia, karena tingkat pendidikan yang rendah. “Faktor yang sangat berkaitan dengan sikap terhadap politik uang adalah tingkat pendidikan dan pendapatan,” tutupnya.

Partai politik seakan mempersubur sikap apatis masyarkat. Sederetan anggota partai  politik yang menjadi tersangka korupsi menjadi salah atu alasan. Perilaku parpol yang terkesan kurang konsisten juga menumbuhkan semakin menipisnya kepercayaan masayakat terhadap pemerintah dan pada akhirnya berdampak pada pilihan golput. Perilaku masyarakat  ini terjadi karena akumulasi kekecewaan terhadap partai politik.

Ketidak konsistenan partai politik menjadi salah satu yang paling berpengaruh terhadap menurunnya pasrtispasi masyarakat pada saat pemilu. Partai seakan menjadi biang keladi dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh negara bangsa (baca: korupsi). Konsep Rubah Macheavelli dimana perilaku cenderung berubah dan seakan tergantung pada kepentingan sesaat menjadi gambaran perilaku partai politik dewasa ini.

Negara kaya tentunya membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang mempunyai kemampuan sepadan dengan luas wilayah Indonesia. Negarawan yang dibutuhkan juga harus mempunyai sikap berani, sehingga dia akan menjadi garda terdepan ketika bangsanya dilecehakan dan dipermalukan dimuka umum. Masayarakat tidak seharusnya menutup mata terhadap politik apalagi bersikap tidak acuh yang ditandai dengan tidak memberikan suaranya ketika pemilu. Kesadaran untuk berpartispasi akan membantu negara bangsa keluar dari berbagai problem yang seakan tidak berkesudahan. Partispasi rakyat menemukan Momentumnya pada Pilkada serentak, pilpres dan pemilu 2019. Mumentum tersebut juga memberi peluang untuk keluar dari kemelut bangsa ini. sehingga partispasi rakyat dan pilihannya menjadi penentu arah negara bangsa selanjutnya.

Kesadaran kolektif sebagai warga Negara sudah saatnya digerakkan secara massif sebagaimana masifnya money politik di pilkada dan merusak sendi-sendi demokrasi. Hasil proses pilkada merupakan ikhtiar politik dari warga masyarakat untuk

mewujudkan harapan-harapan hidupnya secara berkelanjutan bukan untuk tujuan jangka pendek semata. Nilai-nilai ilahiah harus dihadirkan dalam setiap proses politik yang berlangsung, bukan sebaliknya. Agar aktivitas masyarakat termasuk politik kiranya dapat bernilai ibadah. Wallahu a’lam bi al-shawab. (Red)

Penulis Odih Hasan Staff Divisi SDM Panwaslu Kota Tangerang

Jumat (25/5/2018).

0 133

BANTEN – Danau buatan Tasikardi yang dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Yusuf ini luasnya 6,5 ha. Lokasinya di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu berada 2 km di sebelah tenggara keraton Surosowan. Dari hasil penelitian para arkeolog, dasar danau seluruhnya terbuat dari ubin bata dan ditengah-tengah danau dibangun sebuah pulau kecil yang diberi nama Pulau Kaputren.

(Pulau Kaputren berada ditengah danau) Foto : Imam Munandar

Semula tempat peristirahatan yang dibangun di tengah pulau diperuntukan ibunda sultan untuk tafakur mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Tetapi kemudian berkembang menjadi tempat penerimaan tamu-tamu negara. Semua tamu yang pernah diterima ditempat  ini umumnya merasa puas dan terkesan. Sayangnya bangunan tempat peristirahatan itu kini tinggal pondasinya saja, antara lain bangunan turap yang mengelilingi pulau 40 m x 40 m dengan ketinggian 2-3 m. Kemudian bangunan kolam untuk mandi dan bekas bangunan vila yang konon sangat indah dan artistik.

(Kolam ditengah Pulau Kaputren) Foto : Imam Munandar

Menurut cerita rakyat, danau Tasikardi sengaja dibangun untuk menyimpan selir-selir raja yang cantik jelita. Agar semua dayang-dayang yang cantik itu aman, maka di danau itu dipelihara puluhan buaya. Hanya dengan menggunakan perahu khusus seseorang bisa berkunjung ke pulau tersebut.

(Sisa pondasi istana di tengah pulau Kaputren) Foto : Imam Munandar

Tetapi Cornelis de Bruin, tamu kehormatan dari negeri kincir angin yang diterima Sultan Banten pada tahun 1706 tidak menceritakan tentang adanya buaya-buaya yang dipelihara di danau itu. De Bruin hanya menulis dalam laporannya, bahwa istana yang dikelilingi air itu pernuh dengan wanita-wanita yang bersenjata. Rupanya tempat menerima tamu kehormatan itu terdapat 850 wanita yang menjaga keamanan disekitar lokasi tersebut.

(Sekitar sisi pinggir danau) Foto : Imam Munandar

Air danau berasal dari saluran irigasi yang bersumber dari sungai Cibanten. Dari danau  itulah sebagian airnya untuk irigasi sawah disekitar Tasikardi dan sebagian lagi disalurkan untuk bahan baku air bersih lewat penjernihan air yang dinamakan Pengindelan Abang, Pengindelan Putih, Pengindelan Emas.

(Pengindelan Abang) Foto : Imam Munandar

Teknik penjernihan air pada waktu itu menggunakan pasir dan ijuk. Air yang sudah diproses menjadi bersih kemudian disalurkan ke keraton lewat pipa terekota, tanah liat yang dibakar dengan garis tengah 40 cm. Bangunan yang disebut pengindelan seperti bungker berukuran 8 x 5,5 m dibangun oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel.

Kini, Danau Tasikardi menjadi Cagar Budaya dan menjadi salah satu destinasi wisata alam dan sejarah. (detikbantencom/Imam Munandar)

0 240

KOTA SERANG – Siapa yang tak kenal Kakek Edi Rosady. Dengan ‘style’ nyentrik menggunakan topi baret merah, sepatu dinas militer, berbagai atribut khas pejuang veteran dan sebuah lampu pengatur lalu lintas dikenakan olehnya. “Sudah tidak asing lagi bagi pengendara pengguna jalan yang melintasi jalan Gang Rendah Pasar Loak jalan Tubagus Buang, Pocis Kota Serang.

Senyum tulus telihat dari bibir kempot Edi yang selalu menyapa pengguna jalan dengan wajah selalu riang dengan penampilannya yang khas membuat banyak mata tertuju padanya.

(Bersama salah satu Anggota Polisi) Foto : Imam mundandar

Edi kini berusia  67 tahun, ia asli warga Kaloran Madrasah, Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang yang nyaris setiap hari berada di jalanan. “Bukan untuk sekadar duduk santai, namun mengatur jalanan supaya lancar dengan sukarela.

Usia Edi kini tidaklah muda, namun bukan penghalang untuk melakukan aktifitas yang rutin yang dilakukannya sudah hampir belasan tahun itu. ‘style’ Edi menggunakan seragam komplit ala militer saat ini, setelah dilantik menjadi anggota Satuan Tugas ( SATGAS) Cakra Buana tahun 2013 lalu, dan sampai saat ini juga pakaian itu melekat dikesehariannya. Sehingga dirinya mudah diingat oleh pengguna jalan.

“Cuma identitas aja, gak ada maksud yang lain” tuturnya dengan ucapan yang khas.

(Dengan sepeda nyentriknya). Foto : Imam Munandar

Untuk mobilitas kesana kemari, Edi menggunakan sepeda dan berangkat ke tempat tujuannya rutin setiap jam 9 pagi. Sepeda yang digunakannya pun tak kalah kece dari pakaian yang dikenakannya. Dengan penuh aksesoris sampai toa pengeras suara ia sematkan dibagian depan sepedanya. Yang lebih menarik dan kecenya lagi, sepeda yang digunakannya setiap hari merupakan hadiah dari Presiden RI Joko Widodo. “sepeda ini dikasih sama presiden, saya sangat senang, apalagi yang ngasih ini orang nomor satu di negara ini” ucapnya

Dengan usia yang sudah lanjut, Edi tidak memiliki pekerjaan tetap, tubuhnya yang kurus, masih terlihat sehat dan tegar, ia selalu bersyukur masih diberi kesehatan sehingga bisa membantu orang lain dalam memperlancar lalu lintas. “tetap bersyukur,” tuturnya.

Selain mengatur lalu lintas, terkadang Edi mendapat panggilan job untuk mengatur jalannya kelancaran lalu lintas ditempat orang hajatan. “Penghasilan dari job tersebut sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari” paparnya.

Usai mengatur lalu lintas, Edi Setiap sore menyempatkan ke madrasah dekat rumahnya, ia selalu membersihkannya tiap sore hari tatkala ia selesai mengatur lalu lintas. Atas apa yang ia lakukan, tak jarang ada tetangga yang memberinya makanan. Ia tetap besyukur. Dalam prinsip hidupnya, Edi tak pernah mengharapkan apapun dari orang lain. Semua yang ia lakukan semata-mata untuk membantu orang lain. (Imam/Red)

RANDOM POSTS

0 12
DetikBanten.com, Kota Cilegon - Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banten dengan Komandan Lanal (Danlanal) Banten Kolonel Laut (P) Baroyo Eko Basuki membuka kontes burung berkicau...
error: Content is protected !!