Sabtu, Oktober 13, 2018
Entertainment

0 7

DetikBantencom. Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa ada perhelatan besar dari Kerajaan Inggris hari ini. Ya, tepat pada Jumat (12/10/2018), Princess Eugenie of York, menikah. Putri Eugenie resmi mengucap janji suci dengan Jack Brooksbank di Kastil Windsor di Inggris. Dan salah satu yang menjadi sorotan dari pernikahan Putri Eugeniedan Jack Brooksbank adalah gaun pengantinnya. Putri Eugenie yang merupakan saudara sepupu Pangeran William dan Pangeran Harry ini tampak cantik dalam gaun pengantin putihnya saat berjalan menyusuri lorong altar.


Putri Eugenie menikah Jumat (12/10/2018). (AFP)

Seperti dilansir dari Cosmopolitan, untuk hari pernikahannya, Putri Eugenie memilih gaun pengantin putih rancangan dari Peter Pilotto. Dapat dilihat, untuk detil busana punggung sang putri sengaja dibiarkan berbuka hingga bagian bawah, lalu dipercantik dengan cutting V-neck lebar di sisi depan yang diteruskan hingga bahu.

Layaknya gaun pengantin internasional, gaun Putri Eugenie juga didesain dengan ekor panjang. Sebagai aksesori, di kepalanya dipasangkan berlian dan mahkota berhias batu safir yang sangat memukau. Untuk memperindah kakinya saat melangkah di lorong altar, sang putri memakai sepatu dari Charlotte Olympia. Selamat berbahagia untuk sang putri!

Sumber : Suara.com

0 34

Meniscayakan Landmark

“Oleh. Eko Supriatno”
Apa yang kita pikirkan pertama kali ketika
mendengar kata Banten? Kabupaten Pandeglang
khususnya. Ada beberapa yang menyebutnya dengan Maritim, Badak, Nelayan, dan masih banyak lainnya.

Semuanya hampir benar, namun apakah kita semua sudah yakin bahwa itu semua merupakan ciri khas dari Provinsi Banten atau Kabupaten Pandeglang?
Agak disayangkan memang, namun justru dari
sinilah seharusnya kita sudah memikirkan sebuah branding agar daerah yang kta cintai
ini dapat dan mudah untuk dikenali.
Menurut penulis, keberadaan penanda wilayah (landmark; tetenger (jw)) bagi
suatu kota adalah sesuatu yang “amat penting”, dimana akan menjadikan kota itu lebih
mudah diingat publik. Lebih jauh, landmark juga menjadi cerminan sekaligus spirit kota
yang dapat dibaca dalam retorika kebudayaan (lokal). Beberapa kota—di Indonesia
maupun dunia—secara relatif telah memiliki landmark yang dengan segera
mengingatkan publik akan kota tersebut. Seperti Tugu Monumen Nasional (Monas) di
Jakarta—di samping Tugu Selamat Datang atau Bundaran Hotel Indonesia (HI), Tugu
Muda di Semarang, Tugu Pahlawan di Surabaya, Patung Singa lengkap dengan air
mancurnya di Orchard Road Singapura, Menara Petronas di Kuala Lumpur, Patung
Liberty di Amerika Serikat maupun kubah keong Sydney Opera di Sidney sebagai misal.
Sebuah landmark selain sebagai sebuah kesatuan-bangun juga harus
mencerminkan spirit, potensi, atau lokalitas sebuah kota yang hendak diidealkan
sebagai keunggulan komparatif sekaligus keunggulan kompetitif. Soal bentuk misalnya,
masyarakat Labuan perlu berpikir bentuk selain ikan, ikon Banten yang telah mendunia.

Masyarakat Banten dapat mengeksplorasi, landmark tidak melulu harus
berbentuk klasik. Landmark pun dapat berbentuk kontemporer, dan hendaknya bersifat
fungsional. Landmark tidak harus berujud tugu atau benda-benda yang memang
dirancang sebagai penanda semata. Justru landmark yang dipersepsi publik dari
bangunan-bangunan yang memang memiliki kegunaan tertentu—semisal teater di
Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali; gedung perkantoran seperti World Trade Centre
(WTC) New York maupun Menara Petronas; gedung instansi pemerintahan sebagaimana
White House di Washington DC, Gedung MPR/DPR maupun Gedung Bundar Kejagung;
atau sebagai monumen seperti Monas—akan memiliki manfaat yang langsung dapat dirasakan publik.

Begitupun dengan Pandeglang sebagai kabupaten yang sedang membangun
retorika citra kota perlu berpikir untuk mendesain sebuah landmark sebagai penanda
kotanya. Tak hanya Labuan, karena provinsi dan kabupaten/kota di Banten sendiri
belum banyak memiliki landmark yang representatif.

Dalam konteks Labuan (tempat tinggal penulis), landmark yang hendak
dibangun lebih tepat memiliki fungsi sebagai ruang terpuka (open space) berbentuk
teater terbuka (open theatre) bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan. Atau bisa juga
dibangun sebuah Tugu untuk melambangkan keperkasaan Nelayan Labuan. Tugu yang
keberadaannya di tengah-tengah Kota dijadikan sebagai acuan kabupaten.

Begitupun dengan City brand, di Solo kita mengenal Solo sebagai Spirit of Java,
Jogja: Never Ending Asia, Pekalongan world’s of city of Batik, Sparkling Surabaya, Enjoy
Jakarta, dan lain sebagainya. Mereka sudah mempersiapkan diri sejak lama, bahkan
akhir-akhir ini kita mendengar juga bahwa Semarang juga sedang membangun kembali
City Branding-nya, Jogja Darurat Logo. Apakah Kabupaten Pandeglang diam saja? Kita
butuh orang-orang yang haus akan identitas Kabupaten Pandeglang. Sebuah identitas
yang sangat perlu dicanangkan untuk mempermudah promosi sebuah daerah.

Menurut Van Gelder (2003) dari laman MoncyArt, persyaratan suatu city brand
tidak jauh dari persyaratan merek atau branding pada umumnya, yaitu: “City brand
harus menunjukkan kondisi kualitas dari kota atau daerah yang sebenarnya. City brand pada
kenyataannya bukan merupakan cita-cita atau visi semata-mata yang ingin dicapai, tetapi adalah kenyataan yang sebenarnya yang menggambarkan kondisi kota tersebut. City brand juga bukan pula merupakan semata-mata suatu janji, tetapi adalah janji yang ditetapi ketika orang tinggal,
hidup, menetap atau sekedar berkunjung ke dalam suatu kota. City branding memaparkan
sesuatu yang baik dari kota. Bukan menjelaskan kekurangan atau sisi buruk dari kota tersebut.
City brand harus mudah diucapkan, dikenal. diingat, dijiwai, dihayati dan dipahami oleh tidak
hanya penduduk kota, tetapi juga bagi setiap orang yang melihat, membaca dan mendengarnya.

City brand harus mudah terbedakan, oleh karena itu harus spesifik dan khas. City brand harus
mudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris harus menggambarkan
pengertian yang sama dan identik, sehingga tidak membingungkan orang yang mengetahuinya.

City brand harus bisa memperoleh hak untuk didaftarkan dan mendapat perlindungan hukum”.
Urusan Bersama
Memang sebuah landmark dan City Branding bukan infrastuktur fisik yang
dampaknya akan terasa langsung oleh rakyat—seperti jalan, fasilitas umum dan fasilitas
sosial. Namun, bila kita hitung dampak-ikutannya (multiflier effect), keberadaan
landmark baru terasa kemudian. Di sektor ekonomi, landmark dan City Branding akan
menjadi gula-gula ekonomi baru yang mengundang bangkitnya investasi termasuk
investasi sektor ekonomi nonformal bila landmark dan City Branding itu sekaligus
dijadikan kawasan kunjungan wisatawan. Secara politik dan kultural, keberadaan
landmark akan menyajikan citra (image) kota yang menegaskan keberadaan kota dalam
pergaulan antarkota baik di wilayah regional, nasional, maupun global. Sehingga,
pembangunan sebuah landmark yang dilakukan secara kritis dan tidak korup tentulah
bukan sebuah proyek mercusuar semata.

Banyak yang mengira urusan landmark ataupun City Branding merupakan urusan
pemerintah, buat apa kita turut campur? Pernah terbayangkan tidak ketika daerah kita
sendiri terkenal? Pembangunan di daerah menjadi lebih cepat, banyak UMKM yang
meraup laba lebih, produk-produk lokal bisa dipasarkan ke luar daerah bahkan ke luar
negeri, kita pun nantinya secara tidak akan langsung akan merasakan dampaknya
secara tidak langsung.

Perlu kita ketahui bersama, pembangunan landmark ataupun City Branding di
kota-kota lain melibatkan banyak kalangan. Tidak melulu dari pemerintah setempat,
tapi juga dari tokoh masyarakat, seniman, budayawan, aktivis media sosial, organisasi-
orgasisasi, dan orang-orang yang berkompeten lainnya seperti yang memiliki
kompetensi dalam pembangunan tata kota, ilmu pemasaran, dan filsafat. Cukup
komplek bukan? Semuanya campur baur menuangkan ide bersama-sama. Tak hanya
itu saja, bukan tidak mungkin juga diadakanya sayembara untuk pembuatan logo
maupun tagline sebuah kota.

“Menggagas Landmark dan City brand adalah Keniscayaan” mengingat
kesempurnaan sebentuk bayangan yang tak kunjung hinggap. Sekecil apapun ide kita,
tentunya akan sangat bermanfaat demi kemajuan Banten. Hampir semua kota sudah
mulai berbenah, sudah saatnya Banten juga ikut berbenah. (Red – DetikBantencom)

0 68

Detikbanten.com – Dunia peran bagi Mahasiswa Pasca Sarjana Perbanas ini bukanlah hal baru. Karena bagi pemilik nama Aryzza Ramadhanny atau biasa dipanggil Dhani ini, Syuting baik sinetron dan FTV atau Layar lebar sering digelutinya Semasa kuliah strata satu di STIKS Tarakanita.

istimewa

Menurut gadis kelahiran Jakarta, 17 Februari 1994 yang pernah terlibat bermain dalam Film Wicked Witch ini mengatakan, bahwa proses menjadi seorang pemain Film bukan jalan yang mudah. Untuk itu, meski dirinya sibuk antara dunia kerja dan melanjutkan kuliah, dara cantik ini tetap mendalami dunia akting.

“Saya sempat mencicipin kerasnya syuting dengan kejar tayang justru membuat saya lebih prima dalam menjalani proses pembuatan film. Dalam film itu berbeda tekhnis dan manajemen, seperti sinetron mungkin teknisnya beda ya, teknis sinetron dan teknis film beda. Tapi kalau misalnya secara kerja kerasnya, kemampuan improvisasinya cepet nangkep, justru sinetron jauh lebih cepat karena kalau stripping kan mau nggak mau harus kerja cepat,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta. Senin (25/06/2018)

istimewa

Menurutnya, sebagai pemain Film dalam berakting selain mendalami peran juga baca skenario harus bisa cepat, improvisasi cepat, adaptasi cepat, harus bisa sadar kamera. “Karena ada tiga kamera, jadi mereka selalu bilang, loe harus begini sedikit, jadi justru lebih susah kalau sinetron. Kalau film kan kita ada reading, ada persiapan, ngobrol panjang lebar sama sutradara, workshop. Kalau sinetron kan, yuk kita tayang nih, dua jam lagi, yuk cepat syuting,” paparnya.

istimewa

Dhanni yang pernah bermain di film pendek dengan Flick Production berjudul Wicked Witch sebagai pemeran utama ini mengungkapkan targetnya untuk karier akting di masa depan yang ingin menggerakkan emosi penonton. Dengan begitu, dia bisa tersenyum, tertawa, dan menangis bersama penonton. Selain itu, dia juga menghindari proyek-proyek dengan plot provokatif.

Berakting, kata mantan pimpinan produksi club teater dan mantan wakil ketua majalan kampus Tarakanita ini menilai, bahwa sebuah cara untuk menghilangkan stres. Dengan berakting, bisa berinteraksi dengan penonton dan mendapatkan energi positif dari mereka. Karena itu Dhani memiliki alasan tersendiri untuk terus berkeinginan bermain dalam berbagai proyek akting.

“Pada satu titik, aku memutuskan untuk menjadi seperti orang kebanyakan. Aku menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa dan belajar bersama teman-temanku. Aku bahkan membantu para senior, mempersiapkan pementasan teater kampus,” ulasnya.

Dhani yang memilki berat badan 51 Kg dan tinggi badan 161 Cm ini mengaku nyaman dengan dunia akting yang kini digelutinya. Padahal sebelumnya ia merasa biasa saja saat mengawali karirnya di layar lebar. “Awalnya enggak tertarik karena pertama kali main masih kecil, yang penting bisa main dan senang. Tapi sekarang senang banget bisa main film,” pungkasnya. (Awd)

0 71

Detikbanten.com – Tato kini telah menjadi hal yang wajar ditemui pada tubuh para pesepakbola. Sebagai contoh, kita melihat bintang seperti Zlatan Ibrahimovic dan Lionel Messi memiliki tato di tubuhnya. Hanya saja, jika kita cermati, pemegang gelar pemain terbaik dunia beberapa tahun terakhir, Cristiano Ronaldo tidak memiliki satu pun tato.

Karier Cristiano memang sangat luar biasa. Di usianya yang tergolong sudah cukup uzur bagi pesepakbola, prestasinya terus menanjak. Gol demi gol juga terus mengalir dari kaki dan kepalanya, namun tubuhnya tetap saja bersih tanpa adanya rajahan tato.

istimewa

Dilansir dari Dazzling News, Cristiano ternyata sengaja tidak mentato tubuhnya demi alasan kemanusiaan, tepatnya agar bisa mendonorkan darahnya secara rutin. Sebagai informasi, beberapa persyaratan bagi mereka yang ingin mendonorkan darahnya adalah tidak memiliki penyakit berbahaya yang bisa menular, tidak mengonsumsi obat terlarang, dan tidak mentato tubuhnya.

Tak hanya mendonorkan darah, Cristiano ternyata juga pernah mendonorkan sumsum tulang tubuhnya. Hal ini dilakukan tatkala rekan pesepakbola dari Portugal Carlos Martins memiliki anak yang sedang jatuh sakit dan membutuhkan donor sumsum tulang.

Terdapat banyak sekali cerita positif tentang Cristiano di bidang kemanusiaan. Sebagai contoh, berkali-kali ia memilih untuk langsung menyumbang uang bagi anak-anak penderita penyakit berbahaya yang membutuhkan dana untuk pengobatan yang sangat mahal. Padahal, banyak pemain lain yang hanya memilih untuk menyumbangkan kausnya agar bisa dilelang dan dananya disumbangkan ke orang yang membutuhkan.

“Mendonorkan darah ataupun sumsum tulang bukanlah hal yang menyakitkan. Prosesnya juga tidak rumit. Aku senang bisa membantu orang lain,” ucap Cristiano.

Sikap yang sungguh luar biasa dari seorang pesepakbola yang luar biasa. (Red)

0 91

ENTERTAINMENT – Juri Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2018 telah bekerja keras untuk menghasilkan nominasi kategori terbaik dan terfavorit ajang bergengsi ini. Para juri yang terdiri dari Marcella Zalianty, Lukman Sardi, Marsha Timoty, Salman Aristo, Robert Ronny, Ifa Isfansyah dan Ario Bayu telah melakukan perdebatan panjang, tetapi tetap pada poin pentingnya.

Lukman mengatakan ada beberapa aspek atau poin yang diperhitungkan untuk menentukan karya-karya terbaik yang layak masuk menjadi daftar nominasi. Ada 4 poin dihadirkan para dewan juri untuk menjadi acuan dalam penilaian spesifik tahun ini.

“Tahun ini ada penilaian spesifik untuk menentukan aktor atau aktris itu layak menjadi yang terbaik. Jadi, ada empat poin penilaian yaitu difficulty (tingkat kesulitan peran tersebut), believability (tingkat meyakinkannya si tokoh ini memerankan), depth (kedalaman) dan konsistensi dia berperan dari awal sampai akhir. Empat unsur itu yang kita nilai,” jelas Lukman.

Adanya 4 poin ini membantu para juri memberikan penilaian secara objektif. Sementara terkait para juri yang masuk menjadi nominasi, Lukman menekankan bahwa mereka tidak dapat memberikan interfensi. Oleh karena itu, agar lebih objektif penilaian diserahkan kepada juri lain.

Artinya, juri yang menjadi nominasi tidak bisa mempengaruhi juri lainnya terkait penilaian dirinya. Cara ini dinilai dapat menghindari subjektivitas para juri dan dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu, para juri juga wajib menonton 61 film yang mendaftar dan dikerucutkan menjadi 17 kategori.

“Sama sekali nggak boleh menginterfensi. Kalo ada yang main kaya saya, berati saya nggak boleh nilai bagian saya itu. Begitu juga dengan yang lainnya,” tutur Lukman.

“Kita tontonin semua film, lalu kita ketemu obrolin dan melakukan penilaian berdasarkan empat unsur tadi hingga keluar lima nama. Nilai yang tertinggi masuk dalam nominasi,” tandasnya.

(Red)

0 54

JAKARTA – Bulan Ramadhan menjadi moment tepat untuk berbagi dan meminta doa dari mereka yang berpuasa. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Epy Kusnandar dan rekan-rekannya, para pemain film Preman Pensiun.

Bertempat di Kalibata City, Jl. Raya Kalibata No.1, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, mereka menyempatkan diri untuk menyapa anak-anak yatim, sekaligus berbuka puasa bersama, pada Minggu (27/5/2018).

“Bisa berbagi dengan mereka, berbagi semangat. Bahwa kita masih diberi kehidupan. Kehilangan bapak jangan dijadikan sedih. Mudah-mudahan senantiasa mendapat sesuatu yang baru, tidak luntur oleh apa pun,” kata Epy, pemeran Kang Mus dalam film produksi MNC Pictures itu.

Selain berbagi, dengan doa dari anak yatim, Epy berharap film yang akan tayang pada September itu bisa diterima masyarakat Indonesia, sekaligus sukses. “Dengan doa dari anak-anak yatim, muga-muga bisa sukses, (bisa) ditonton oleh 5 juta orang,” papar dia.
Sementara itu, kesuksesan film Preman Pensiun dalam melewati setiap proses, diakui Epy, tidak terlepas dari semangat yang ditularkan Almahrum Didi Petet. Menurut dia, semasa hidup, sosok yang memerankan sosok Kang Bahar itu senantiasa menyuntik rekan-rekannya untuk selalu bersemangat.

“Ini persembahan untuk Kang Bahar. Tanpa semangat Kang Bahar nggak ada Preman Pensiun. Pesan istrinya kang Didi juga, harus terus berkarya, jangan berhenti (berusaha),” beber dia.

Sementara itu, berkaca dari kesuksesan sinetron Preman Pensiun, akhirnya cerita tersebut diangkat ke layar lebar. Kendati para pemain film Preman Pensiun sama persis dengan sinetron, akan tetapi dipastikan akan ada yang berbeda dalam film besutan sutradara Aris Nugraha itu. (RED)

0 33

ENTERTAINMENT – Rasa kangen masyarakat Medan terhadap film anak-anak yang berkualitas akhirnya terobati. Buktinya, tiket film Selembar Itu Berarti (SIB) ludes pada hari perdana penayangan di bioskop, Kamis (24/5/2018).

Penonton membludak dan memadati lokasi penjualan tiket, pada dua lokasi penayangan yang disediakan jaringan bioskop XXI. Di Centre Point dan Suzuya Marelan Plaza. Bahkan untuk hari kedua Jumat (25/5/2018) tiket sudah ludes dibooking untuk jam penayangan pukul 14.30 WIB dan 16.45 WIB.

Dari pantauan wartawan, penonton yang didominasi oleh pelajar, orangtua siswa, dan mahasiswa, datang berduyun-duyun memadati lokasi pemutaran. Mereka begitu antusias menyaksikan pemutaran perdana film besutan Sutradara Dedy Arliansyah Siregar.

“Iya, benar ramai,” kata Rina, seorang petugas penjualan tiket XXI Centre Point. “Dari 5 kali jadwal tayang hari ini, kursi studio semuanya full. Tiketnya pun sold out,” ujarnya, Jumat (25/5/2018).

Pemutaran film perdana SIB ini mengalahkan dua film barat, yaitu Solo: A Star Wars Story dan Deadpool 2—yang memang khusus untuk dewasa—yang juga diputar di waktu yang hampir bersamaan.

Selain di Centre Point, penjualan tiket SIB juga mendominasi di bioskop XXI Suzuya Marelan Plaza. Hafni, warga Kota Bangun yang datang untuk menonton, sengaja memilih jadwal saat berbuka puasa. Namun ternyata studio sudah penuh dan hanya menyisakan beberapa kursi bagian depan.

“Filmnya menginspirasi. Saya sengaja membawa anak setelah melihat trailernya di media sosial. Bagus. Banyak yang nangis tadi di dalam,” katanya.

Hal sama terjadi dengan puluhan siswa SMK Sinar Husni 2 TR Labuhan Deli. Mereka terlihat sibuk menghapus airmata sambil lari menjauh dari kejaran wartawan yang ingin mewawancarai.

“Jujur, kami nangis semua tadi. Filmnya sedih, tapi banyak pelajaran penting di dalamnya,” kata M Rifa Fahreza, siswa kelas XI TKR yang berhasil dimintai keterangan.

Tak jauh beda, Giza, siswi madrasah Asuhan Jaya Tanjung Mulia Hilir coba menutupi wajahnya dengan jilbab. “Sedih kali, Oom. Airmata belum kering, udah nangis lagi awak,” katanya.

Selembar Itu Berarti merupakan film pendidikan yang sudah mendapatkan 2 rekor MURI. Sebelum tayang di bioskop, film ini mampu menyerap 300.000 penonton di 10 kabupaten/kota yang tidak memiliki jaringan bioskop. Film ini mulai tayang Kamis (24/5/2018) di bioskop kota-kota besar di Indonesia untuk memenuhi rasa rindu masyarakat Indonesia, terhadap film anak-anak yang berkualitas.

Film Selembar Itu Berarti mengisahkan perjuangan dua kakak beradik, Diaz dan Putri, yang harus hidup tanpa kedua orang tua mereka. Mereka bertahan hidup dan mengejar impian mereka untuk bisa menyelesaikan pendidikan dengan segala keterbatasan mereka. Bahkan untuk menulis pun, mereka harus  mengumpulkan kertas bekas.

(Red)

0 31

JAKARTA – Teuku Wisnu memanfaatkan Ramadhan tahun ini dengan beragam kegiatan positif, mulai berbagi takjil kepada masyarakat hingga membuat film pendek Ramadhan yang bisa memberi pengetahuan bagi banyak orang.

Dimulai dengan berbagi takjil gratis kepada masyarakat luas. Ada 3 ribu takjil yang dipersiapkan setiap harinya selama Ramadhan.

“Takjilnya berisi snack, minuman dan buah kurma yang akan dibagikan setiap harinya sebelum waktu berbuka puasa. Sesuai jadwalnya ada di medsos kami, ” kata Wisnu.

Selain itu, buah kurma yang identic dengan bulan suci Ramadhan menjadi inspirasi Teuku Wisnu untuk mengembangkan lini bisnisnya di bidang kuliner, di mana pemilik usaha Malang Strudel ini menghadirkan varian kurma pada kulinernya tersebut.  “Inikan bagus untuk masyarakat yang akan berbuka puasa dengan kurma yang dikemas dalam balutan kue,” kata Wisnu.

Suami Shireen Sungkar ini juga meluncurkan film pendek berjudul Catatan Bang Inu Ramadhan Series yang terbalut dalam 30 episode. Masyarakat bisa melihat acting Wisnu di Instragram dengan akun @strudelmalang. Film ini bisa disaksikan mulai 17 Mei hingga 15 Juni setiap hari jam 5 sore.

“Kita berlomba untuk berbuat kebaikan dengan cara yang baik. Untuk film, banyak topik menarik yang kita angkat dan bisa menambah ilmu kita semua,” terang dia.

(Red)

RANDOM POSTS

0 7
DetikBantencom, Kota Serang - Harga beras di Agen beras toko Ainul yakin yang berada di pasar Rawu, Kota Serang mulai mengalami kenaikan sebesar Rp...
error: Content is protected !!